Pangan Transgenik / GMO

Sebagian besar kedelai impor berasal dari negara yang mengadopsi budidaya kedelai transgenik. Tanaman transgenik atau dikenal sebagai Genetically Modified Organism (GMO) menurut definisi WHO adalah organisme yang telah mengalami perubahan pada materi genetiknya, sehingga organisme tersebut memiliki sifat-sifat yang tidak dimiliki sebelumnya. Gen yang disisipkan ke dalam organisme tersebut dapat berasal dari spesies yang sama ataupun berbeda (WHO, 2012).

Tempe berbahan baku kedelai impor diakui para pengrajin tempe memiliki kualitas tempe yang lebih mengembang dibanding kedelai lokal. Namun jika diamati, kedelai lokal lebih unggul dari kedelai impor dalam pembuatan tempe. Rasa tempe lebih lezat dan  resiko terhadap kesehatan cukup rendah karena bukan benih transgenik. Sekalipun unggul sebagai bahan baku tempe, kedelai lokal punya kelemahan yakni, ukuran lebih kecil dibanding kedelai impor, kulit ari kacang sulit terkelupas saat proses pencucian kedelai, proses peragiannya pun lebih lama membuat sebagian besar pengrajin tempe tetep menggunakan kedelai impor dikarenakan alasan tersebut (Marlinah, 2012).

Pangan transgenik memang memiliki kualitas fisik yang lebih baik dibandingkan pangan lokal. Namun dibalik hal tersebut terdapat kekhawatiran akan pangan transgenik karena adanya sifat-sifat baru yang dimiliki tanaman dapat menimbulkan ekspresi protein baru akibat gen dari spesies lain. Protein yang baru ini dapat memunculkan toksisitas dan alergi baru (Seralinni et al, 2009).

Jika dilihat kedelai lokal khususnya varietas asli yang masih alami di negeri ini memiliki keunggulan yang sangat signifikan yaitu Non GMO. Kedelai lokal Non GMO (Genetic Modified Organism) berarti kedelai ini tidak mengalami modifikasi genetik atau transgenik seperti pada umumnya kedelai impor. Sehingga lebih sehat, dan aman untuk dikonsumsi. Keunggulan fisik dari kedelai lokal dapat mengakibatkan kedelai impor menjadi tidak lagi menarik bagi yang sudah memahami resikonya (Marinki,2014).

Namun pada kenyataanya, kedelai lokal mengalami penurunan permintaan  karena pengrajin tempe lebih memilih kedelai impor (varietas Amerika Serikat). Hal tersebut dikarenakan menurut pengrajin tempe harganya yang lebih murah, meskipun dari segi kualitas kedelai lokal tidak kalah bersaing. Namun, sesungguhnya jika ditelusuri harga kedelai lokal lebih murah dibanding impor dengan kualitas yang lebih baik. Dari segi kesehatan, kedelai lokal memiliki nutrisi yang lebih baik selain itu keamanan pangannya lebih terjamin karena tanpa adanya rekayasa genetik dan tanpa menggunakan pestisida sintetik.

Produk tempe berbahan kedelai lokal Non GMO (Genetics Modified Organism) atau transgenik yang ada di Yogyakarta ini yaitu ada dua produk Attempe dan Tempe Tjah Dampit. Kedua produk tempe kedelai lokal ini tidak mengandung GMO sehingga lebih aman dan sehat dikonsumsi. Kandungan protein pada produk tempe kedelai lokal tersebut lebih tinggi sebaliknya kandungan lemaknya juga rendah. Selain itu keunggulan dari tempe kedelai lokal Non GMO ini yaitu rasa yang dimiliki lebih gurih berbeda dengan tempe kedelai impor pada umumnya.

Kedelai Lokal Non GMO

Kedelai lokal yang sering digunakan para pengrajin tempe adalah berjenis kedelai kuning. Kedelai kuning adalah kedelai yang kulit bijinya berwarna kuning, putih atau hijau dan bila dipotong melintang memperlihatkan warna kuning pada bidang irisan keping bijinya dan tidak tercampur lebih dari 10% kedelai jenis lain (Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, 2010).

Beberapa varietas unggul kedelai lokal yang beredar di masyarakat, diantaranya varietas Anjasmara, Kipas merah, dan Grobogan. Varietas Anjasmara memiliki potensi hasil 2,25 ton/ha, tahan rebah, polong tidak mudah rebah pecah, agak tahan terhadap penyakit karat daun, ukuran biji besar (16g/100 biji), umur panen 83-93 hari. Varietas Kipas Merah memiliki potensi hasil 3,5 ton/ha, poloong tidak mudah pecah, agak tahan terhadap penyakit karat daun dan fusarium, bobot biji 12 g/100 biji, umur panen 85-90 hari. Varietas kedelai Grobogan memiliki potensi hasil 2,77 ton/ha, bobot biji 18 g/100 biji, umur panen 76 hari (Marlinah, 2012).

Kedelai lokal memiliki kelebihan saat digunakan sebagai bahan baku pembuatan tempe yakni, rasa tempe yang diciptakan dari kedelai lokal lebih lezat dan resiko terhadap timbulnya penyakit cukup rendah karena bukan benih transgenik. Sekalipun unggul sebagai bahan baku tempe, kedelai lokal memiliki kelemahan untuk bahan baku tempe. Kekurangan kedelai lokal yaitu, ukuran lebih kecil atau tidak seragam dan kurang bersih, kulit ari kacang sulit terkelupas saat proses pencucian kedelai, proses peragiannya pun lebih lama. Dalam hal budidaya kedelai baik lokal maupun impor punya kelebihan masing-masing. Kedelai lokal memeliki umur tanaman lebih singkat 2,5 – 3 bulan daripada impor yang mencapai 5 – 6 bulan. Benihnya pun lebih alami dan non-transgenik (Marlinah, 2012).

Kedelai lokal khususnya varietas asli yang masih alami di negeri ini memiliki keunggulan yang sangat signifikan yaitu Non GMO. Kedelai lokal Non GMO (Genetic Modified Organism) berarti kedelai ini tidak mengalami modifikasi genetik atau transgenik. Kedelai lokal Non GMO  lebih sehat, dan aman untuk dikonsumsi (Marinki, 2014).  Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa kadar protein untuk kedelai lokal lebih tinggi dibandingkan kedelai impor. Selain itu serat kasar dan kadar abunya juga lebih rendah. Dengan demikian kandungan gizi kedelai lokal lebih baik dari pada kedelai impor.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *