Keprihatinan Semakin Menyusutnya Kedelai Lokal yg Murni Non Transgenik

YOGYA, KRJOGJA.com – Prihatin karena sebagian besar tempe di Indonesia bahan bakunya dari kedelai impor, dosen UGM ini akhirnya mengambil keputusan untuk membuat dan menjual tempe dari kedelai lokal. Apa yang ia lakukan sekaligus untuk mendukung para petani yang sudah bersusah payah menanam kedelai.

“Kualitas kedelai lokal  tidak kalah dibandingkan kedelai impor. Satu hal lagi yang sangat penting, kedelai impor itu adalah kedelai GMO atau transgenik hasil rekayasa genetika, sementara kedelai lokal bukan,” kata Dr Atris Suyantohadi STP MT, dosen Fakultas Teknologi Pertanian UGM yang bersama istrinya, Nur Hayati Nirmala Sari mendirikan Attempe, yang ia promosikan sebagai tempe sehat.

Menurut Atris, berdirinya Attempe berawal saat tahun 2013 ia menyusun proposal untuk pengembangan Rumah Kedelai dan KKN Tematik Pengembangan Industri Pedesaan Kedelai di Kabupaten Grobogan. Ia melihat ternyata keberadaan kedelai lokal semakin tersingkir.

Petani yang menanam kedelai lokal semakin sedikit, karena makanan yang terbuat dari bahan kedelai lebih memilih kedelai impor karena murah. “Selisih harga antara kedelai lokal dan kedelai impor sebenarnya tidak jauh, sekitar Rp 1.000 rupiah setiap kilogramnya,” kata Atris.

Lebih lanjut Atris mengatakan dulu selalu ada anggapan bahwa kedelai lokal kalah besar dari kedelai impor GMO. Pandangan itu keliru, karena sekarang banyak jenis kedelai lokal yang secara bentuk lebih besar dari kedelai impor. Beberapa kedelai unggulan yaitu Grobogan, Biodoy, Devon dan Dena.

Selain itu dari sisi kesehatan kedelai lokal lebih sehat. Di Jepang dan negara-negara Uni Eropa ada larangan yang keras untuk tidak menggunakan kedelai impor GMO untuk produk makanan. Bahkan tidak boleh masuk ke negara mereka.

“Sebenarnya di Indonesia ada aturan yang mengharuskan ada label untuk bahan pangan GMO atau transgenik, tapi aturan tersebut tidak diterapkan. Harusnya diterapkan dengan benar sehingga konsumen bisa tahu, makanan yang mereka konsumsi berbahan GMO atau bukan,” kata Atris.

Awal merintis usaha tempe, Atris dan istrinya menitipkan pada pembuat tempe di Bantul. Setelah kian banyak peminatnya, ia kemudian mendirikan  pabrik tempe di perbatasan antara Kabupaten Sleman dan Klaten, tepatnya di daerah Prambanan, Klaten.

Kini tempe produksinya yang menggunakan merek Attempe memasok kebutuhan tempe di supermarket, rumah sakit, serta beberapa hotel di Yogyakarta. “Harapannya semakin banyak produsen tempe yang menggunakan kedelai lokal. Selain lebih sehat juga membantu petani kedelai lokal untuk terus berproduksi,” kata Atris.

Selain itu, memproduksi tempe, Atris yang juga aktif di Pekakekal.org yang salah satunya adalah mendampingi petani kedelai di berbagai daerah. Setidaknya ada 7 wilayah kabupaten di Jawa Tengah dan DIY yang petani kedelainya mendapat pendampingan yaitu Grobogan, Pati, SUkoharjo, Wonogiri, Kulonprogo, Sleman dan Blora. (Apw)

 

Artikel di KR Yogya Click disini

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *